Pantai Kuta Bali: Pantai Paling Termasyhur

Pantai Kuta Bali adalah tempat paling terkenal di Pulau Dewata yang menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya. Pantai ini memang indah, dengan hamparan pasir putih yang sangat luas dan ombak laut yang tenang. Yang tidak boleh dilupakan dari pantai ini adalah pemandangan sunset atau matahari terbenam yang luar biasa.

Sumber dari sini.
Sunset di Pantai Kuta Bali sangat istimewa. Detik-detik menjelang terbenamnya sang surya, langit di arah barat akan tampak seperti berwarna oranye, atau kadang-kadang merah membara. Cahaya matahari terbenam mengubah air laut yang tampak biru itu menjadi berwarna merah, seperti air sup yang berwarna kuning atau merah di dalam mangkuk raksasa. Sungguh puitis.

Sumber dari sini.

Pantai Kuta Bali akan mempesona Anda jika Anda bisa berkosentrasi pada keindahan alamnya saja dan tidak memperhatikan kepadatan pengunjung. Karena alamnya sangat mempesona, tidak heran jika pantai ini dipadati turis dari dalam negeri maupun luar negeri. Anda harus “tahan iman” kalau berkunjung ke pantai ini pada siang hari. Apa sebab?

Di Pantai Kuta Bali ini, banyak turis yang berjemur. Turis wanita biasanya tidak mengenakan bra dan mereka enjoy saja telentang di atas pasir. Tentu tidak semua turis berjemur. Ada juga yang tiduran di bawah teduhan payung besar sambil menikmati bir Bintang. Ada juga yang asyik berselancar karena ombak di sini memang cocok untuk surfing.

Jika ingin berkunjung ke Pantai Kuta Bali, sebaiknya bukan pada saat liburan sekolah. Karena, pantai ini akan sangat sesak oleh pengunjung. Waktu yang tepat adalah selama low season karena tidak banyak pengunjung di sini. Sehingga kita bisa menikmati keindahan pasir putih dan sunset-nya dengan lebih lega.

Pantai Kuta Bali ini dipisahkan dengan ruas jalan utama oleh sebuah dinding yang sangat panjang. Di seberang jalan, berbaris berbagai tempat hiburan, toko dan hotel-hotel besar. Dulu, tidak dipungut biaya jika Anda parkir di pinggir jalan. Kini, ada petugas parkir yang khusus mengurusi perparkiran.

Jika ingin menikmati keindahan Pantai Kuta Bali seutuhnya, kuncinya satu: datanglah pada saat pantai ini tidak ramai.

Pantai Dreamland Bali: Mimpi Tak Jadi

Pantai Dreamland Bali pernah menjadi surga bagi para pecinta pantai dan peselancar. Namun, keserakahan seorang Tommy Soeharto menghancurkan pesonanya. Parahnya lagi, dia tidak konsisten membangun pantai ini agar benar-benar menjadi pantai yang layak dikunjungi. Kalau saja dia tidak mengganggu alam di sini, pasti banyak wisatawan yang berdatangan kemari.

Sumber: Bee
Anak mantan presiden Indonesia itu membangun sebuah resort wisata bernama Pecatu Graha di Pantai Dreamland Bali. Semua warung tradisional disingkirkan dari pantai, padahal warung-warung itu merupakan salah satu daya tarik tersendiri yang dimiliki pantai berpasir putih ini. Yang tersisa kini hanya pasir yang putih dan ombak yang menantang para peselancar.

Sumber: Bee

Dulu, untuk menikmati Pantai Dreamland Bali ini pengunjung harus menuruni jalur tangga yang sempit. Saat pulang pun pengunjung hanya bisa melewati jalur tangga ini. Jadi kunjungan ke pantai ini sekaligus bisa menjadi semacam “olahraga”. Tapi petualangan semacam itu kini tinggal nostalgia. Beruntunglah Bee yang pernah mengalami dan mendokumentasikannya.

Sumber: Bee

Investor yang kini mengelola Pantai Dreamland Bali telah mengubah namanya menjadi New Kuta Beach. Jelas, karena ingin memanfaatkan citra Pantai Kuta yang telah lebih dulu populer. Dan investor tersebut merusak pemandangan pantai ini dengan membangun condotel dan padang golf! Parahnya lagi, satu-satunya jalan masuk ke pantai hanya KLAPA resort dengan biaya parkir Rp 15.000,-.

Dulu, biaya parkir di Pantai Dreamland Bali ini hanya Rp 5.000,- dan itu pun masuk ke dalam kas desa setempat. Lagipula, pantai ini kini juga sudah sangat padat oleh pengunjung. Para peselancar mengingat pantai ini sebagai pantai yang terlantar namun alami. Kini setiap musim liburan pasti dipenuhi bus-bus besar dari mana-mana.

Tapi Pantai Dreamland Bali memang sungguh menggoda walaupun sebagian besar telah rusak. Tidak heran jika pantai ini dipilih menjadi tempat shooting film atau sesi pemotretan. Walaupun kini bukan lagi sebuah pantai yang seolah-olah hanya ada dalam mimpi, paling tidak Anda harus berkunjung satu kali saja ke sini untuk menikmati dan mensyukuri keindahannya.

Pantai di Bali: Pantai Nyang Nyang yang Ekstrem

Pantai di Bali bukan cuma Kuta, Legian dan Sanur walaupun harus diakui bahwa pantai-pantai inilah yang menjadi ikon utama pariwisata Pulau Dewata. Kalau mau didaftar secara rigid, ada lebih dari selusin pantai yang menawarkan daya tarik masing-masing dan sangat layak untuk dikunjungi. Sayang sekali bila hingga kini belum banyak wisatawan yang mengetahui keberadaan pantai-pantai tersebut.

Salah satu pantai di Bali yang belum banyak dijamah turis adalah Pantai Nyang Nyang. Pantai ini terletak di pesisir selatan Pulau Dewata, tepatnya di Desa Pecatu, sekitar tiga kilometer dari Pura Uluwatu. Pantai Nyang Nyang adalah pantai yang “ekstrem”. Bayangkan: hamparan pasir putih yang memikat itu terletak di dasar tebing setinggi sekitar 100-an meter.

Dari ketinggian 100an meter. Foto diambil dari sini.
Parahnya lagi, untuk mencapai pantai di Bali ini, satu-satunya jalan adalah tangga yang diukir pada tebing karang itu. Jika Anda takut ketinggian, mungkin pantai ini bisa menjadi salah satu terapi yang bagus. Walaupun terlihat “mengerikan”, namun setiba di bawah sana kita akan merasakan pengalaman yang langka.

Karena lokasinya yang ekstrem itu, tidak banyak turis yang berkunjung ke pantai di Bali ini. Jadi, pantai ini masih sangat sepi. Cocok jika Anda ingin menghabiskan liburan dalam lingkungan alam yang masih asri dan terjaga. Anda bisa membaca buku di sini dengan tenang sambil menggelar tikar kecil di atas pasir putih yang lembut.

Pantai di Bali ini langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia (yang oleh masyarakat dunia dinamakan Samudera Hindia/Indian Ocean) tanpa penghalang apapun. Ombaknya besar sehingga pantai ini sebenarnya cocok untuk menjadi salah satu favorit para peselancar (surfer). Tapi, walaupun di jalan masuk (yang terletak di atas tebing) ada papan nama yang menyatakan bahwa pantai di Bali ini adalah “surfing beach”, jarang sekali atau bahkan tidak ada peselancar yang bermain di sini.

Usut punya usut, ternyata sebabnya adalah karakteristik pasang surut. Sekitar jam 5 sampai 6 pagi, ombak surut, tapi ombak dengan cepat menjadi pasang lagi mulai jam 11 siang hingga setinggi 6 meter.

Pantai Nyang Nyang memang ekstrem dan sepi. Jika Anda senang bertualang, pantai ini layak menjadi salah satu “sasaran” Anda berikutnya. Jangan lupa membawa bekal secukupnya, seperti air mineral dan makanan ringan karena sama sekali tidak ada warung.

Dan bersiaplah untuk berolahraga lagi ketika hendak pulang dari pantai di Bali ini karena Anda harus mendaki tangga batu – satu-satunya jalur keluar-masuk!